Fadhil, CEO KCI: Detil, Kunci Akurasi Komunikasi (Bag. 1)
22 Desember 2017
Ratna Kartika
0
Fadhil, CEO KCI: Detil, Kunci Akurasi Komunikasi (Bag. 1)
"Sentuhan teknologi terkadang tidak bisa langsung diterima masyarakat. Untuk itu saya butuh corcomm yang kuat," kata Fadhil
Hendra/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Muhammad Nurul Fadhila, Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), termasuk CEO yang mendukung keberadaan PR. Di bawah kepemimpinannya, tepatnya setahun lalu, lahir Divisi Corporate Communications (corcomm) yang bertanggung jawab langsung kepada direktur utama. Divisi corcomm meliputi dua unit, yakni corcomm, desain dan multimedia. Khusus unit corcomm, termasuk di dalamnya marketing communications dengan komposisi 70:30.

Besarnya porsi corcomm, menurut Fadhil—begitu ia akrab disapa—dikarenakan perusahaan yang baru saja bertransformasi dari PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) menjadi KCI itu sedang serius membangun image, paradigma baru, menggunakan banyak sentuhan teknologi, hingga membangun budaya berperilaku transportasi umum yang baik.

“Sentuhan teknologi terkadang tidak bisa langsung diterima masyarakat. Untuk itu saya butuh corcomm yang kuat. Di sisi lain, produk-produk teknologi yang kami buat juga harus di-marketing-kan. Maka dari itu, marcomm-nya saya gandeng dulu di corcomm,” katanya kepada PR INDONESIA di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis (12/10/2017).

 

Cepat dan Akurat

Di samping itu, KCI juga memiliki banyak informasi yang harus dikomunikasikan ke publik. Pertama, kereta api memiliki karakteristik bisnis yang spesifik. Dengan tingkat kepadatan penumpang dan lalu lintas KRL yang tinggi, potensi mengalami gangguan pun besar. Untuk itu, ia menekankan kepada seluruh jajarannya, termasuk corcomm, untuk memberikan informasi secara terbuka kepada penumpang sebagai stakeholders utama. “Dalam situasi apapun, yang dibutuhkan masyarakat hanya soal kecepatan dan akurasi informasi.  Inilah awal dari cara kita membuat atau menyampaikan informasi dengan baik,” imbuhnya.

Kedua, kereta api merupakan transportasi publik yang sangat dinamis menyikapi kebutuhan penumpang. Tak heran KCI gencar membangun dan mengembangkan wilayah operasional. Yang terbaru, memperpanjang rute Jakarta Kota – Bekasi, menjadi Jakarta Kota – Cikarang sejak 8 Oktober lalu. Ini sejalan dengan target melayani 1,2 juta penumpang pada 2019. Stasiun Manggarai pun sedang direvitalisasi menjadi dua lantai, dengan target selesai awal 2019, yang diharapkan mampu mengurai antrian kereta menuju stasiun ini. 

KCI juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mewujudkan transportasi perkotaan yang terintegrasi. Nantinya, akan dibangun kawasan Sudirman/Dukuh Atas yang menjadi penghubung antarmoda. Mulai dari commuter line, LRT, MRT, KA Bandara, hingga TransJakarta. “Kami sedang membangun agar integrasi secara konsep dan fisik itu terjadi,” ujarnya.

Sejumlah pembangunan ini dipastikan mengganggu perjalanan penumpang. Di sinilah peran corcomm diuji. Tim corcomm bertugas memberikan pemahaman dan menyosialisasikan kepada penumpang, bahwa keterlambatan yang terjadi dikarenakan adanya keterbatasan infrastruktur dan pembangunan yang sedang dikerjakan. Penumpang mendapatkan informasi yang akurat dan cepat tentang upaya-upaya yang sedang dilakukan KCI itu.

 

Detail

Untuk memberikan informasi dengan benar dan tepat, ia pun berpesan kepada tim corcomm agar aktif terjun ke lapangan. “Corcomm harus mengenali permasalahan dengan detail. Aktif turun ke lapangan, bergaul dengan petugas, lihat langsung permasalahan di lapangan.  Kalau tidak, nanti informasi yang disampaikan tidak akurat,” kata Fadhil. 

Dengan sendirinya, daya analisis tim corcomm kian terasah. Sehingga, mereka semakin mudah menerjemahkan bahasa teknis ke dalam bahasa yang dipahami masyarakat. Lalu, dikomunikasikan dengan baik dan disampaikan secara terbuka sesuai porsinya. Contoh, antrean di Stasiun Manggarai yang kerap menjadi keluhan penumpang. Sebenarnya, KCI sudah berupaya. Buktinya, durasi keterlambatan menuju Stasiun Manggarai menurun dari yang awalnya 15 menit menjadi hanya 5 menit dibandingkan tahun sebelumnya. “Kenyataannya, penumpang tidak mau tahu. Bagi mereka, meski hanya 5 menit, tetap saja namanya keterlambatan,” imbuhnya.

Pesan lainnya, bicaralah apa adanya. “KRL adalah transportasi yang bersentuhan dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Jadi, sampaikanlah apa yang sedang kita lakukan kepada masyarakat,” katanya. Menurut Fadhil, langkah itu bukanlah bentuk pencitraan, melainkan upaya untuk membangun semangat positif kepada masyarakat. rtn

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST